Selasa, 17 Maret 2015

Konsep Sehat Behaviorisme menurut J.B Watson

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep Sehat adalah Keadaan berprilaku yang baik atau sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup beraktifitas dan berproduktif secara sosial dan ekonomis dalam lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Seseorang harus peduli pada keadaan dirinya mulai dari pengetahuan kesehatannya.
Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.
Jika manusia tidak mempunyai konsep sehat yang baik sesuai dengan kebutuhan dirinya tentu saja keadaan manusia tersebut penuh dengan aura negatif. Aliran Behaviorisme ini sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dan konsep sehat itu sendiri.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menuntaskan tugas mata kuliah Kesehatan Mental. Selain itu, penulis berharap agar tulisan ini dapat menjadi tulisan yang bermanfaat dan menjadi referensi bagi semua orang yang membacanya.

C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dalam makalah ini akan dibahas tentang:
1. Definisi konsep sehat dan aliran behaviorisme
2. Tokoh aliran Behaviorisme

3. Hubungan konsep sehat dengan aliran behaviorisme

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Konsep Sehat


Keadaan berprilaku yang baik atau sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup beraktifitas dan berproduktif secara sosial dan ekonomis dalam lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Seseorang harus peduli pada keadaan dirinya mulai dari pengetahuan kesehatannya.
Seseorang harus mengetahui bagaimana memelihara kesehatannya, seperti pengetahuan tentang
penyakit menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait kesehatan, dan apa saja yang memengaruhi kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan. Setiap orang juga diharapkan dapat memelihara kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait dalam kesehatan.

B. Definisi Teori Behaviorisme
Behavioristik adalah sebuah teori yang di cetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Tokoh utama aliran ini ialah J.B. Watson.
Teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku dan semua bentuk tingkah laku manusia. Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon . seorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah simulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bial penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Watson membuat prediksi dan pengendalian terhadap perilaku dan sedikitpun tidak ada kaitannya dengan kesadaran.
Teori behaviorisme hanya menganalisis perilaku yang tampak pada diri seseorang yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik. Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi semua perilaku dipelajari menurut hubungan stimulus – respons.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, Skinner. Terdapat 3 Prinsip dalam aliran behaviorisme:
1)      Menekankan respon terkondisi sebagai elemen atau pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir di kehidupan. Perilaku muncul sebagai respons dari kondisi yang mengelilingi manusian dan hewan.
2)      Perilaku adalah dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk karena dipelajari. Lingkungan terdiri dari pengalaman baik masa lalu dan yang baru saja, materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan individu akan belajar dari semua itu.
3)      Memusatkan pada perilaku hewan. Manusia dan hewan sama, jadi mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku manusia.

D. Biografi John B. Watson



John Broadus Watson (lahir di Greenvile 9 Januari 1878; meninggal 25 September 1958) adalah seorang ahli psikologi (psikolog)Amerika Serikat. Watson mempromosikan sebuah perubahan psikologi melalui karyanya Psychology as the Behaviorist Views it(pandangan perilaku psikologi), yang ia dedikasikan kepada Universitas Kolumbia pada tahun 1913. Ia menjelaskan bahwa tingkah laku seseorang dapat dijelaskan atas dasar reaksi fisiologik terhadap suatu rangsangan atau stimulus. Aliran ini tidak menerima paham tentang alam sadar dan alam bawah sadar pada kegiatan mental manusia. Watson adalah guru besar dan direktur laboratorium psikologi Universitas Johns Hopkins (tahun 1908-1920). Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:
1)      Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science. Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya.
2)      Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science. Salah satu halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psikologi.
3)      Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.
Berdasarkan penelitiannya pada tingkah laku bayi, Watson berpendapat bahwa pada bayi dan anak yang sangat muda terdapat tiga reaksi yang tak perlu dipelajarinya terlebih dahulu, yaitu terkait rasa takut, kasih sayang, dan amarah. Di antara buku karangannya yang terkenal adalah, Psichology from the standpoint of a bevaiorist tahun 1919 dan Psychological care of infant and child tahun 1928.
Pada usia 22 tahun, 20 Juli 1900, Watson sudah menuliskan karya psikologinya, mengusulkannya pada presiden Universitas Chicago saat itu, william Raney Harper, setahun sebelum ia lulus dari Universitas Furman, sebuah sekolah milik yayasan Baptis dekat dengan kota kelahirannya, Greenville. Tercatat bahwa Watson merupakan pemuda penuh antusias dalam pengetahuan, namun miskin. Ibunya seorang peminum. Dalam kondisi itu ia pernah menulis pernyataannya kepada Harper, "Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak akan pernah sampai pada sebuah universitas, kecuali aku telah dipersiapkan lebih baik di "universitas sebenarnya" (hidup yang menempanya).

D. Konsep/Kepribadian Sehat menurut Teori Behaviorisme J.B Watson


Kepribadian sehat behavioristik :
1)      Manusia adalah makhluk perespon, lingkungan mengontrol perilaku
2)      Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
3)      Mementingkan faktor lingkungan
4)      Menekankan pada faktor bagian
5)      Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
6)      Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu
Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Dan ciri-cirinya yaitu : tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan krativitas. Jadi, manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki diri sendiri.
Prinsip dasar behaviorisme:
1)      Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2)      Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3)      Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4)      Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5)      Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
Behavioristik di pengaruhi oleh stimulus-respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Penguatan tersebut terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Baik behaviorisme maupun psikolanalisis tidak berbicara mengenai potensi kita untuk bertumbuh, keinginan kita untuk menjadi lebih baik atau lebih banyak dari yang ada.

E. Contoh Kasus Konsep Sehat menurut J.B Watson
Apakah anda termasuk tipe orang tua yang overprotective terhadap anaknya? Jika ya, sebaiknya anda mulai mengubah sikap tersebut. Hal ini karena pola asuh yang terlalu protektif atau mengekang dapat menyebabkan rasa cemas berlebihan pada si anak. Anak yang tidak berhasil memenuhi tuntutan orang tuanya akan berisiko mengalami gangguan OCD (Obsessive Compulsive Disorder).
Sebagai contoh kasus nyata yang dialami oleh seorang remaja berusia 16 tahun di Surabaya. Remaja ini diketahui mengalami gangguan tersebut (OCD), yang kemudian dibawa ibunya ke poliklinik RSUD dr Soetomo Surabaya untuk diperiksakan kondisi psikologisnya.
Adapun keluhannya meliputi sering mencabuti rambut hingga kepala botak, menggigit kuku hingga jarinya terluka, serta sering mencuci tangannya setelah menyentuh benda atau bersalaman dengan orang lain. Dokter Yunias Setiawati SpKJ yang menangani pasien tersebut menyebutkan jika keluhan pasien akan bertambah ketika menghadapi suatu masalah. Misalnya adalah ketika pasien sedang menghadapi berbagai tugas berat di sekolah. Hal ini membuat keluhannya semakin bertambah, bahkan remaja tersebut mandi berulang kali dalam sehari dan susah untuk tidur.
Pasien tersebut sebenarnya menyadari jika perilakunya tidak wajar, namun dia tidak bisa menghentikannya. Rasa cemas yang dialami pasien tersebut akan mereda setelah mencuci tangan dan mencabut rambutnya. Oleh karena itu, pasien ini datang ke dokter Yunias untuk meminta bantuan dalam menghentikan kebiasaannya tersebut. Yunias pun melakukan wawancara secara mendalam kepada pasien tersebut dan ibunya. Setelah diwawancara, diketahui fakta bahwa ibunya adalah orang yang sangat teliti dan pembersih. Ibunya juga sering melarangnya untuk bermain yang kotor-kotor. Di sisi lain, ayahnya adalah sosok pekerja keras, di mana semua pekerjaannya harus selesai dengan sempurna dan tepat waktu. Ayahnya juga sering memarahi pasien bila nilai pelajarannya buruk dan tidak sesuai harapan. Yunias mengatakan bahwa itu hanya salah satu contoh dari sekian banyak kasus pasien yang mengalami OCD.
Salah satu hal yang melatarbelakangi seseorang mengalami OCD adalah terlalu protektifnya pola asuh orang tua, seperti selalu mengatur anak, perfeksionis, dan pembersih. Pola asuh semacam ini dapat menimbulkan kecemasan pada anak. Tuntutan yang berlebihan dapat menyebabkan kegagalan pada anak untuk memenuhi harapan atau ekspektasi orang tua, sehingga pada akhirnya menimbulkan gangguan tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi fisik, jiwa dan sosial serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.

B. Saran
Manusia perlu mengambil kebijakan-kebijakan terhadap lingkungan sebagai usaha untuk memperoleh efisiensi pemanfaatan sumber alam dan lingkungan. Kita sebagai manusia wajib menyadari bahwa kita saling terkait dengan lingkungan yang mengitari kita, selain untuk kesehatan tubuh lingkungan juga dapat menjadi sarana belajar seseorang untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Perilaku yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita dapat mengubah perilaku yang sudah ada dalam diri kita sendiri.
Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan. Jadi untuk mempunyai konsep sehat yang baik, alangkah baiknya jika kita dapat menyaring pengalaman-pengalaman yang telah kita lihat disekitar lingkungan kita untuk diaplikasikan ke dalam diri kita sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-model Kepribadian Sehat.

Rabu, 29 Oktober 2014

Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Internet


A. Pengertian Media Internet 
Dari segi ilmu pengetahuan, internet merupakan sebuah perpustakaan besar yang didalamnya terdapat jutaan (bahkan miliaran) informasi atau data berupa teks, grafik, audio, atau animasi, bahkan dalam bentuk media elektronik.  Brace (1997) dalam Hujair AH. Sanaky (2009 : 190),  menganggap internet suatu kesepakatan karena untuk dapat saling berhubungan dan berkomunikasi setiap komputer harus menggunakan protokol standar yaitu TCP/IP  (Transmission Control Protocol/Internet Protocol) yang disepakati bersama. Komunikasi antar komputer yang menggunakan TCP/IP hanya dapat dilakukan setelah adanya kesepakatan tentang penggunaan standar komunikasi pengiriman dan penerimaan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Komunikasi yang dilakukan tanpa adanya kesepakatan tidak dapat dijalankan walaupun komputer seseorang telah terhubung dengan jaringan internet. Dampak Positif dan Negatif dari Internet Media internet memiliki banyak manfaat positif, namun internet juga mempunyai beberapa dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijaksana.

B. Dampak Positif Penggunaan Internet




Internet telah banyak membantu manusia dalam segala aspek kehidupan sehingga  internet mempunyai andil penuh dalam kehidupan sosial. Dengan adanya internet apapun dapat kita lakukan baik positif maupun negative. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang palingbanyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya di seluruh dunia. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet diseluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehinggamanusiatahuapa saja yang terjadi.Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan,kebudayaan, dan lain-lain.



Menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011 : 188), terdapat beberapa dampak positif dan negatif yang mungkin timbul dari penggunaan media internet antara lain : 
·         Dampak Positif Media Internet, yaitu :
a.       Kemudahan dalam memperoleh informasi,
b.      Internet mendukung transaksi operasi bisnis (e-business),
c.       Konektivitas dan jangkauan global,
d.      Dapat diakses 24 jam, 
e.       Kecepatan dalam mendapatkan informasi dan komunikasi,
f.       Interaksi dengan pengguna di belahan dunia yang lain dapat
g.      dilakukan secara fleksibel dan interaktif,
h.      Sebagai media promosi,  berbagai aktivitas baru dapat dilakukan secara tepat dan efisien.

C. Dampak Negatif Internet



Jaringan internet sangat rentan dengan ancaman virus, Karena siapa saja bisa mengakses sumber-sumber informasi  global, maka terbuka peluang untuk mencuri hasil karya intelektual orang lain, kejahatan penggunaan kartu kredit dan penayangan materi pornografi.
1.      Cybercrime
Adalah kejahatan yang di lakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat:
·         Melintasi batas Negara
·         Perbuatan dilakukan secara illegal
·         Kerugian sangat besar
·         Sulit pembuktian secara hukum bentuk-bentuk cybercrime



2.      Hacking
Usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan system jaringan.
3.      Cracking
Usaha memasuki secara illegal sebuah jaringan dengan maksud mencuri,mengubah atau menghancurkan file yang di simpan padap jaringan tersebut.
4.      Pornografi
Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen  browser melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-pageyang dapat di-akses. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
5.      Violence And Gore
Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi padadunia  internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macamcara agar dapat  menjual situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
6.      Penipuan
Hal ini memang  merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dariserangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak  mengindahkan hal ini ataumengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
7.      Carding
Karena sifatnya yang  real time (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengansifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yangmenggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya  mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan.

D. Jejaring Sosial Terhadap Perkembangan
Jejaring sosial atau jaringan sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpulsimpul (umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain sebagainya. Jejaring sosial sebagai struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga. Istilah ini diperkenalkan oleh profesor J.A. Barnes di tahun 1954. Akhir-akhir ini banyak dijumpai pemberitaan di media cetak dan elektronik yang membeitakan tentang penyalahgunaan situs jejaring sosial.
            Beberapa berita yang paling hangat adalah kasus seorang anak remaja laki-laki yang membawa kabur seorang anak remaja perempuan yang dikenal lewat situs jejaring sosial (facebook). Selain itu penyalahgunaan situs jejaring sosial (facebook) juga digunakan sebagai ajang prostitusi di kalangan remaja. Selain kedua hal tersebut, masih banyak lagi masalah-masalah yang ditimbulkan dari situs pertemanan sosial. Keadaan ini sungguh sangat ironis dengan tujuan utama situs jejaring sosial itu dibuat, yakni untuk memperluas hubungan sosial, untuk kebutuhan konsumen atau pemakai, menekankan pada sisi sosial atau eksternal, serta lebih diutamakan sisi emosionalnya (dalam Pengaruh Jejaring Sosial Dalam Masyarakat)
Dampak situs jejaring sosial mungkin lebih banyak dirasakan oleh kalangan remaja, karena sebagian besar pengguna jejaring sosial adalah dari kalangan remaja pada usia sekolah. Karena sangat mudah menjadi anggota dari situs jejaring sosial, maka tidak heran jika banyak orang baik sengaja ataupun hanya coba-coba mendaftarkan dirinya menjadi pengguna situs jejaring sosial tersebut. Tidak butuh waktu lama akan menjadi kebiasaan untuk mengakses dan membuka situs-situs jejaring sosial tersebut, dan berinteraksi secara pasif di dalamnya. Akibatnya pengguna dalam hal ini peserta didik (siswa) bisa lupa waktu karena terlalu asyik dengan kegiatannya di dunia maya tersebut. Yang paling menghawatirkan adalah bahwa  pada era teknologi dan globalisasi seperti sekarang ini, telepon seluler yang dulunya hanya berfungsi sebagai alat penerima dan pemanggil jarak jauh, kini dapat digunakan untuk mengakses internet dan situs jejaring sosial. Jadi siswa tidak perlu lagi ke warnet untuk mengakses situs pertemanan, melainkan dapat mengaksesnya langsung di telepon seluler mereka.
Hal ini semakin menambah banyak kasus penyalahgunaan situs jejaring sosial untuk hal yang tidak sesuai dengan aturan.Tidak hanya siswa, para mahasiswa pun tidak luput dari dampak situs jejaring sosial ini. Sebuah penelitian terbaru dari Aryn Karpinski, peneliti dari Ohio State University, menunjukkan bahwa para mahasiswa pengguna aktif jejaring sosial seperti facebook ternyata mempunyai nilai yang lebih rendah daripada para mahasiswa yang tidak menggunakan situs jejaring sosial facebook. Dari 219 mahasiswa yang diriset oleh Karpinski, 148 mahasiswa pengguna situs facebook ternyata memiliki nilai yang lebih rendah daripada mahasiswa non pengguna. Menurut Karpinski, memang tidak ada korelasi secara langsung antara jejaring sosial seperti  facebook yang menyebabkan nilai para mahasiswa atau pelajar menjadi jeblok. Namun diduga jejaring  sosial telah menyebabkan waktu belajar para siswa atau mahasiswa tersita oleh keasyikan berselancar di situs jejaring sosial tersebut. Para pengguna jejaring sosial mengakui waktu belajar mereka memang telah tersita. Rata-rata para siswa pengguna jejaring sosial kehilangan waktu antara 1 – 5 jam sampai 11 – 15 jam waktu belajarnya per minggu untuk bermain jejaring sosial di internet. (dalam www.pengaruh facebook.com).
Prestasi belajar dalam hal ini nilai siwa menurun akibat terlalu sering membuka situs jejaring sosial di internet.  Hal ini mungkin karena motivasi belajar siswa tersebut juga menjadi berkurang karena lebih mementingkan jejaring sosialnya daripada prestasi belajarnya sendiri. Motivasi sangat memegang pengaruh yang penting terhadap siswa, karena dengan motivasi siswa tersebut dapat menyadari betapa pentingnya belajar untuk kehidupan yang akan datang. Motivasi juga berpengaruh terhadap pencapaian cita-cita siswa yang mungkin telah tertanam sejak siswa itu memiliki cita-cita. Untuk itulah motivasi belajar siswa perlu dipertahankan dan jangan sampai  motivasi tersebut menurun akibat dari penggunaan sius jejaring sosial yang semakin menghawatirkan.


Daftar Pustaka

Djamaludin, Ancok.2008. Psikologi dan Tantangan Millenium ke Tiga.Psikologi dan Tantangan Millenium ke Tiga: Dampak Teknologi Internet Pada Kehidupan Manusia dan Pengelolaan Institusi Pendidikan Psikologi.

Ekasari, P, Dharmawan, A. H. (2012). Dampak sosial-ekonomi masuknya pengaruh internet dalam kehidupan remaja di pedesaan. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 6, 57-71.
diakses dari :

Chaerah, Nur. 2011. Dampak Negatif dan Positif Internet di Kalangan Masyarakat. Fakultas Pendidikan Teknik Elektro Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Negeri Makassar

Surya, Yuyun W.I. 2002. Pola Konsumsi dan Pengaruh Internet sebagai Media Komunikasi Interaktif  pada Remaja (Studi Analisis Persepsi pada Remaja di Kotamadya Surabaya). Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga.

Indra A, Noor. Pemanfaatan Internet Sehat Sebgai Sumber Belajar pada Program Pendidikan Kesetaraan di Sanggar Kegiatan Belajar Kota Semarang. Balitbang SDM Kominfo

Internet Addiction


A. Definisi Kecanduan Internet ( Internet Addiction Disorder: IAD)




Internet addiction merupakan fenomena yang mencemaskan dan menarik perhatian Internet telah membuat remaja kecanduan, karena menawarkan berbagai informasi, rmainan, dan hiburan. Hal ini ditandai rasa senang dengan internet, durasi penggunaan internet terus meningkat, menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet.  Pecandu internet tidak dapat menghentikan keinginan untuk online sehingga kehilangan kontrol dari penggunaan internet dan kehidupannya.

Mengacu pada penggunaan Internet yang bermasalah, termasuk beragam aspek dari teknologi internet yang berkaitan, seperti email dan World Wide Web. Perlu dicatat bahwa kecanduan internet belum tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan mental yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: edisi keempat (2000).

Kecanduan internet telah diakui secaraformal sebagai gangguan oleh American Psychological Association. Meskipun kecanduan internet telah mempengaruhi banyak orang, para ahli masih memperdebatkan mengenai terminologi yang tepat untuk gejala tersebut. Namun demikian, dalam 1 dekade terakhir konsep tentang kecanduan internet telah semakin luas diterima sebagai gangguan klinis yang acapkali memerlukan perawatan (treatment) khusus. Para peneliti masih belum sepakat tentang apakah kecanduan internet merupakangangguan pada dirinya sendiri atau merupakan symptom dari gangguan yang lain.

Ada juga yang memperdebatkan apakah kecanduan internet harus dikategorikan sebagai gangguan impuls atau gangguan kompulsif-obsesif (obsessive compulsive disorder) dan bukannya kecanduan biasa.Salah satu gejala (symptom) kecanduan Internet adalah penggunaan waktu yangberlebihan untuk Internet. Seseorang mungkin mengalami kesulitan untuk mengurangiakses terhadap Internet bahkan jika ia diancam sanksi mendapat nilai yang buruk disekolah atau dikeluarkan dari pekerjaannya. Ada beberapa kasus telah dilaporkan tentang para mahasiswa yang menolak untuk tidak mengakses Internet agar bisa mengikut ikuliah. Gejala-gejala kecanduan lain meliputi antara lain kurang tidur, kelelahan, nilai-nilai yang memburuk, kinerja yang buruk di tempat kerja, apatisme dll. Ada juga kemungkinan berkurangnya investasi untuk hubungan sosial dan aktivitas. Seseorang mungkin berbohong tentang berapa banyak waktu yang digunakannya untuk online ataumenyangkal bahwa mereka memiliki masalah. Mereka mungkin menjadi sering marah(irritable) saat tidak online, atau marah kepada siapapun yang menanyakan waktu  mereka di Internet.
 Tanda-tanda dan symptom dari kecanduan Internet berbeda-beda untuk tiap orang. Sebagai contoh, tidak ada kriteria sekian jam perhari atau berapa pesan sehari yang mengindikasikan seseorang telah kecanduan Internet. Namun berikut ini dapat diberikan tanda-tanda peringatan bahwa penggunaan Internet Anda atau anak-anak Anda mungkin telah menjadi suatu masalah:

a.               Tidak dapat melacak waktu yang digunakan untuk online.
b.              Memiliki masalah untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan atau di rumah.
c.               Terisolasi dari keluarga dan teman-teman.
d.      Merasa bersalah atau defensif terhadap penggunaan Internet.
e.               Merasa semacam euphoria jika sedang terlibat dalam aktivitas Internet.


Berdasarkan hasil analisis data penelitian, yaitu adanya hubungan positif faktor neuroticism, openness to experience dan agreeableness terhadap kecanduan internet pada mahasiswa dan adanya hubungan negatif faktor extraversion dan conscientiousness terhadap kecanduan internet pada mahasiswa. Teknologi berbasis internet ini, sangat disukai oleh individu neurotic. Kepribadian neurotic ditandai dengan kecenderungan untuk merasa mudah kecewa, marah, depresi sehingga seringkali mengganggu keharmonisan hubungan individu dengan orang lain. Dengan adanya media internet, individu tidak perlu berhadapanlangsung  (face to face) dengan orang lain saat berkomunikasi, mereka dapat menyembunyikan posisi sosial dan emosionalnya di hadapan orang lain. Individu cenderung menggunakan media internet untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapi, individu neurotic menemukan kepuasan dalam hidupnya ketika mengakses internet.
Penelitian yang dilakukan oleh Loytsker & Alello (Young & Rodgers, 1998b), didapatkan hasil bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial, mudah bosan dan kesepian memiliki kecenderungan kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami kecanduan pada internet. Dimensi berikutnya yang terkait dengan  kecanduan internet adalah openness to experience. Kepribadian openness to experience menilai usahanya secara proaktif dan penghargaan terhadap pengalaman demi kepentingannya sendiri. Kepribadian ini menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa (Costa & McCrae 1985;1990;1992 dalam Pervin & John, 2001).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ramdhani (2008) mengenai penggunaan e-mail dengan kepribadian openness to experience, dimana diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara kepribadian openness to experience dengan penggunaan e-mail. Orang yang terbuka mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan mempunyai sudut pandang konvensional sehingga bagi individu openness to experience penggunaan e-mail menantang mereka untuk dapat  melakukan sesuatu yang selama ini belum dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan dirinya. Kepribadian agreeableness juga merupakan salah satu kepribadian yang terkait dengan kecanduan terhadap internet. Individu yang memiliki tingkat agreeableness  mempunyai sedikit permasalahan pada hubungan interpersonalnya, dimana ketika sedang menghadapi suatu konflik,  self esteem mereka akan menurun. Selain itu, menghindar dari usaha langsung untuk memutuskan konflik dengan orang lain. Individu yang kecanduan internet memiliki permasalahan hubungan dengan individu lain, dimana mereka akan lebih memilih untuk melarikan diri dari permasalahan yang sedang mereka hadapi dibandingkan harus menyelesaikan masalah tersebut. Individu yang mempunyai sifat seperti ini menyukai komunikasi melalui internet karena meraka dapat menemukan ideologi yang radikal atau mendiskusikan hal-hal yang dianggap tabu (Young & Rodgers, 1998b)
Penelitian yang dilakukan oleh Niemz et al (2005) menunjukkan hasil bahwa siswa yang mengalami gangguan penggunaan internet memiliki harga diri yang rendah dan secara sosial individu tidak merasa kurang ketika mereka sedang online. Beralihnya individu pada aktivitas internet karena ia merasa mendapatkan teman yang menerima dan tidak menolak sifat atau karakteristik kepribadian yang ia miliki. Individu merasa bahwa aktivitas internet tersebut, dapat memberikan suatu informasi yang ia butuhkan. Dengan online individu menemukan perasaan yang menyenangkan, seperti bergairah, gembira, berdebar, bebas, atraktif, merasa didukung dan dibutuhkan. Perasaan ini merupakan penguat suatu individu mengalami kecanduan internet. Sebaliknya ketika offline individu mendapatkan perasaan yang tidak menyenangkan seperti cemas, dihalangi, frustasi dan sedih (Young, 1999).
Hasil kategorisasi pada nilai masing-masing skala menunjukkan bahwa kecanduan  internet mahasiswa berada pada kategori rendah. Berbeda halnya dengan hasil kategorisasi skala masing-masing dimensi kepribadian big five. Dimana dimensi neuroticism berada pada kategori sedang, dan dimensi extroversion, openness to experience, agreeableness dan conscientiousness yang berada pada kategori tinggi. Rendahnya tingkat kecanduan internet di Indonesia, dapat disebabkan oleh penggunaan  internet dan warnet yang masih kurang khususnya di daerah-daerah. Sejauh ini, hanya kalangan terpelajar dan masyarakat perkotaan yang mengenal internet. Sementara itu, bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang tersebar diberbagai daerah hingga ke pelosok desa, internet bisa jadi masih terlalu asing dimata mereka.
Tidak semua kasus kecanduan internet diakibatkan oleh big five personality, ada banyak faktor yang juga ikut memberikan sumbangan terhadap perilaku kecanduan internet, seperti faktor internal, yang terdiri dari gender maupun keterampilan komunikasi yang dilakukan oleh individu sehingga individu merasa nyaman ketika berinteraksi dengan individu lain.  Selain faktor internal di atas, adanya faktor eksternal yang juga ikut berperan dalam pembentukan pola perilaku kecanduan internet ini antara lain faktor keluarga, yaitu bagaimana hubungan dan dukungan dari keluarganya, faktor-faktor sosial di lingkungan sekeliling yang berkaitan dengan penerimaan dan penolakan dari masyarakat serta faktor budaya dimana individu dituntut untuk mengikuti kemajuan teknologi yang terus berkembang sehingga mengakibatkan sesorang menjadi pecandu internet.

B. Macam-macam Kecanduan Internet
Kecanduan internet,  yang juga disebut kecanduan komputer, kecanduan online,penggunaan internet yang patologis (Pathological Internet Use: PIU),  iDisorder, atau gangguan kecanduan internet (Internet Addiction Disorder: IAD) yang mencakup sejumlah problem kontrol impuls seperti:

a.               Kecanduan cybersex (Cybersex Addiction):
Internet pornography, adult chat rooms, adult fantasy role-play.
b.              Kecanduan hubungan-cyber (Cyber-Relationship Addiction)
Kecanduan jejaring sosial, chat, text (sms) atau email.
c.               Net Compulsions
Game online, judi online, permainan saham online, atau lelang online seperti eBay yang seringkali membawa konsekuensi masalah finansial ataumasalah pekerjaan.
d.             Kelebihan Informasi ( Information Overload)
Selancar online atau pencarian data base secara kompulsife.

Kecanduan Komputer adalah memainkan permainan komputer secara obsesif, seperti Solitaire atau Minesweeper, atau pemrogramn komputer secara obsesif. Yang paling umum dari kecanduan Internet ini adalah cybersex,  judi online,  kecan dan hubungan-cyber.

C. Penyebab Utama Kecanduan Internet
Tidak seorangpun yang tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang kecanduanInternet, namun ada beberapa faktor yang telah diusulkan untuk menjelaskan kecanduanInternet. Salah satu teori berhubungan dengan potensi mengubah mood (mood-altering potential dari perilaku-perilaku yang berkaitan dengan kecanduan proses. Sama seperti seseorang yang mengalami kecanduan belanja merasakan dorongan (rush) atau perubahan mood yang menyenangkan dari tindakan-tindakan yang berhubungan dengan belanja, demikian pula seseorang yang kecanduan internet mungkin merasakan dorongan yang sama untuk menghidupkan komputer dan mengunjungi situs-situs favorit mereka. Dengan kata lain, para peneliti berpikir bahwa terdapat perubahan-perubahan kimiawi yang terjadi dalam tubuh saat seseorang terlibat dalam perilaku kecanduan. Lebih lanjut dari sudut pandang biologis, mungkin terdapat kombinasi dari gen-gen yang membuatseseorang lebih rentan terhadap  perilaku kecanduan, mirip dengan para peneliti yang telah menemukan gen-gen yang mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap alkohol. Teori-teori lainnya berupaya menjelaskan kecanduan tersebut dengan penjelasan perilaku, psikodinamik dan  kepribadian, sosiokultural atau biomedikal (Ferris).

D. Menolong Anak dan Remaja yang Kecanduan Internet
Jika Anda membatasi penggunaan Internet secara keras bagi anak-anak Anda, maka mereka mungkin akanmemberontak atau pergi ke tempat lain. Tapi Anda perlu memantau penggunaankomputer dan smartphone, mengawasi aktivitas online dan memberikan pertolongan jikaanak-anak Anda memerlukan. Jika anak-anak Anda menunjukkan tanda-tanda kecanduan Internet, ada beberapahal yang bisa Anda lakukan untuk menolong:
a.               Doronglah minat-minat lainnya dan aktivitas sosial
b.              Pantaulah penggunaan komputer dan tetapkan batasan yang jelas
c.               Gunakan apps untuk membatasi penggunaan smartphone oleh anak-anak Anda
d.             Bicarakanlah dengan anak-anak Anda tentang masalah-masalah yang bisa munculakibat kecanduan Internet
e.       Carilah pertolongan: mungkin dari pelatih olahraga, dokter, sahabatkeluarga/tetangga, konselor atau psikolog.

Daftar Pustaka

Ningtyas, Sari. 2010. Hubungan Self Control dan Internet Addiction pada Mahasiswa. Universitas Negeri Jakarta. Vol. 2 No. 2 Hal 3-5

Putra, Kevin. 2009. Big Five Personality dengan Kecanduan Internet. Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia : Jurnal Psikologi Vol. 24 No. 3 Hal 30-45

Christianto, Victor. 2014. Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif Perilaku: Sebuah Tinjauan Ringkas (Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy). Sekolah Tinggi Teologi Satya Bhakti Malang. Vol. 27 No. 6 Hal. 8-9

Hasibuan, Adlin. 2014. Sistem Pakar Diagnosa Kecanduan Menggunakan Internet (Internet Addiction) Menggunakan Metode Certainty Factor. Pelita Informatika Budi Dharma. Volume 6 nomor 3. Hal 143-147

KOC, Mustafa. 2011. Internet Addiction and Psychopatology. TOJET. Volume 10 issue 1. Page 143-148

Widiana, H.S., Retnowati, S., Hidyat, R., Kontrol Diri dan Kecenderungan Kecanduan Internet. Indonesian Psychologycal Journal Vol.1 No. 1. Hal 6-16

Soetjipto, H.P. Pengujian Validitas Konstruk Kriteria Kecanduan Internet. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada : Jurnal Psikologi Volume 32, No. 2, Hal 74-91