Rabu, 29 Oktober 2014

Internet Addiction


A. Definisi Kecanduan Internet ( Internet Addiction Disorder: IAD)




Internet addiction merupakan fenomena yang mencemaskan dan menarik perhatian Internet telah membuat remaja kecanduan, karena menawarkan berbagai informasi, rmainan, dan hiburan. Hal ini ditandai rasa senang dengan internet, durasi penggunaan internet terus meningkat, menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet.  Pecandu internet tidak dapat menghentikan keinginan untuk online sehingga kehilangan kontrol dari penggunaan internet dan kehidupannya.

Mengacu pada penggunaan Internet yang bermasalah, termasuk beragam aspek dari teknologi internet yang berkaitan, seperti email dan World Wide Web. Perlu dicatat bahwa kecanduan internet belum tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan mental yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: edisi keempat (2000).

Kecanduan internet telah diakui secaraformal sebagai gangguan oleh American Psychological Association. Meskipun kecanduan internet telah mempengaruhi banyak orang, para ahli masih memperdebatkan mengenai terminologi yang tepat untuk gejala tersebut. Namun demikian, dalam 1 dekade terakhir konsep tentang kecanduan internet telah semakin luas diterima sebagai gangguan klinis yang acapkali memerlukan perawatan (treatment) khusus. Para peneliti masih belum sepakat tentang apakah kecanduan internet merupakangangguan pada dirinya sendiri atau merupakan symptom dari gangguan yang lain.

Ada juga yang memperdebatkan apakah kecanduan internet harus dikategorikan sebagai gangguan impuls atau gangguan kompulsif-obsesif (obsessive compulsive disorder) dan bukannya kecanduan biasa.Salah satu gejala (symptom) kecanduan Internet adalah penggunaan waktu yangberlebihan untuk Internet. Seseorang mungkin mengalami kesulitan untuk mengurangiakses terhadap Internet bahkan jika ia diancam sanksi mendapat nilai yang buruk disekolah atau dikeluarkan dari pekerjaannya. Ada beberapa kasus telah dilaporkan tentang para mahasiswa yang menolak untuk tidak mengakses Internet agar bisa mengikut ikuliah. Gejala-gejala kecanduan lain meliputi antara lain kurang tidur, kelelahan, nilai-nilai yang memburuk, kinerja yang buruk di tempat kerja, apatisme dll. Ada juga kemungkinan berkurangnya investasi untuk hubungan sosial dan aktivitas. Seseorang mungkin berbohong tentang berapa banyak waktu yang digunakannya untuk online ataumenyangkal bahwa mereka memiliki masalah. Mereka mungkin menjadi sering marah(irritable) saat tidak online, atau marah kepada siapapun yang menanyakan waktu  mereka di Internet.
 Tanda-tanda dan symptom dari kecanduan Internet berbeda-beda untuk tiap orang. Sebagai contoh, tidak ada kriteria sekian jam perhari atau berapa pesan sehari yang mengindikasikan seseorang telah kecanduan Internet. Namun berikut ini dapat diberikan tanda-tanda peringatan bahwa penggunaan Internet Anda atau anak-anak Anda mungkin telah menjadi suatu masalah:

a.               Tidak dapat melacak waktu yang digunakan untuk online.
b.              Memiliki masalah untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan atau di rumah.
c.               Terisolasi dari keluarga dan teman-teman.
d.      Merasa bersalah atau defensif terhadap penggunaan Internet.
e.               Merasa semacam euphoria jika sedang terlibat dalam aktivitas Internet.


Berdasarkan hasil analisis data penelitian, yaitu adanya hubungan positif faktor neuroticism, openness to experience dan agreeableness terhadap kecanduan internet pada mahasiswa dan adanya hubungan negatif faktor extraversion dan conscientiousness terhadap kecanduan internet pada mahasiswa. Teknologi berbasis internet ini, sangat disukai oleh individu neurotic. Kepribadian neurotic ditandai dengan kecenderungan untuk merasa mudah kecewa, marah, depresi sehingga seringkali mengganggu keharmonisan hubungan individu dengan orang lain. Dengan adanya media internet, individu tidak perlu berhadapanlangsung  (face to face) dengan orang lain saat berkomunikasi, mereka dapat menyembunyikan posisi sosial dan emosionalnya di hadapan orang lain. Individu cenderung menggunakan media internet untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapi, individu neurotic menemukan kepuasan dalam hidupnya ketika mengakses internet.
Penelitian yang dilakukan oleh Loytsker & Alello (Young & Rodgers, 1998b), didapatkan hasil bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial, mudah bosan dan kesepian memiliki kecenderungan kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami kecanduan pada internet. Dimensi berikutnya yang terkait dengan  kecanduan internet adalah openness to experience. Kepribadian openness to experience menilai usahanya secara proaktif dan penghargaan terhadap pengalaman demi kepentingannya sendiri. Kepribadian ini menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa (Costa & McCrae 1985;1990;1992 dalam Pervin & John, 2001).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ramdhani (2008) mengenai penggunaan e-mail dengan kepribadian openness to experience, dimana diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara kepribadian openness to experience dengan penggunaan e-mail. Orang yang terbuka mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan mempunyai sudut pandang konvensional sehingga bagi individu openness to experience penggunaan e-mail menantang mereka untuk dapat  melakukan sesuatu yang selama ini belum dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan dirinya. Kepribadian agreeableness juga merupakan salah satu kepribadian yang terkait dengan kecanduan terhadap internet. Individu yang memiliki tingkat agreeableness  mempunyai sedikit permasalahan pada hubungan interpersonalnya, dimana ketika sedang menghadapi suatu konflik,  self esteem mereka akan menurun. Selain itu, menghindar dari usaha langsung untuk memutuskan konflik dengan orang lain. Individu yang kecanduan internet memiliki permasalahan hubungan dengan individu lain, dimana mereka akan lebih memilih untuk melarikan diri dari permasalahan yang sedang mereka hadapi dibandingkan harus menyelesaikan masalah tersebut. Individu yang mempunyai sifat seperti ini menyukai komunikasi melalui internet karena meraka dapat menemukan ideologi yang radikal atau mendiskusikan hal-hal yang dianggap tabu (Young & Rodgers, 1998b)
Penelitian yang dilakukan oleh Niemz et al (2005) menunjukkan hasil bahwa siswa yang mengalami gangguan penggunaan internet memiliki harga diri yang rendah dan secara sosial individu tidak merasa kurang ketika mereka sedang online. Beralihnya individu pada aktivitas internet karena ia merasa mendapatkan teman yang menerima dan tidak menolak sifat atau karakteristik kepribadian yang ia miliki. Individu merasa bahwa aktivitas internet tersebut, dapat memberikan suatu informasi yang ia butuhkan. Dengan online individu menemukan perasaan yang menyenangkan, seperti bergairah, gembira, berdebar, bebas, atraktif, merasa didukung dan dibutuhkan. Perasaan ini merupakan penguat suatu individu mengalami kecanduan internet. Sebaliknya ketika offline individu mendapatkan perasaan yang tidak menyenangkan seperti cemas, dihalangi, frustasi dan sedih (Young, 1999).
Hasil kategorisasi pada nilai masing-masing skala menunjukkan bahwa kecanduan  internet mahasiswa berada pada kategori rendah. Berbeda halnya dengan hasil kategorisasi skala masing-masing dimensi kepribadian big five. Dimana dimensi neuroticism berada pada kategori sedang, dan dimensi extroversion, openness to experience, agreeableness dan conscientiousness yang berada pada kategori tinggi. Rendahnya tingkat kecanduan internet di Indonesia, dapat disebabkan oleh penggunaan  internet dan warnet yang masih kurang khususnya di daerah-daerah. Sejauh ini, hanya kalangan terpelajar dan masyarakat perkotaan yang mengenal internet. Sementara itu, bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang tersebar diberbagai daerah hingga ke pelosok desa, internet bisa jadi masih terlalu asing dimata mereka.
Tidak semua kasus kecanduan internet diakibatkan oleh big five personality, ada banyak faktor yang juga ikut memberikan sumbangan terhadap perilaku kecanduan internet, seperti faktor internal, yang terdiri dari gender maupun keterampilan komunikasi yang dilakukan oleh individu sehingga individu merasa nyaman ketika berinteraksi dengan individu lain.  Selain faktor internal di atas, adanya faktor eksternal yang juga ikut berperan dalam pembentukan pola perilaku kecanduan internet ini antara lain faktor keluarga, yaitu bagaimana hubungan dan dukungan dari keluarganya, faktor-faktor sosial di lingkungan sekeliling yang berkaitan dengan penerimaan dan penolakan dari masyarakat serta faktor budaya dimana individu dituntut untuk mengikuti kemajuan teknologi yang terus berkembang sehingga mengakibatkan sesorang menjadi pecandu internet.

B. Macam-macam Kecanduan Internet
Kecanduan internet,  yang juga disebut kecanduan komputer, kecanduan online,penggunaan internet yang patologis (Pathological Internet Use: PIU),  iDisorder, atau gangguan kecanduan internet (Internet Addiction Disorder: IAD) yang mencakup sejumlah problem kontrol impuls seperti:

a.               Kecanduan cybersex (Cybersex Addiction):
Internet pornography, adult chat rooms, adult fantasy role-play.
b.              Kecanduan hubungan-cyber (Cyber-Relationship Addiction)
Kecanduan jejaring sosial, chat, text (sms) atau email.
c.               Net Compulsions
Game online, judi online, permainan saham online, atau lelang online seperti eBay yang seringkali membawa konsekuensi masalah finansial ataumasalah pekerjaan.
d.             Kelebihan Informasi ( Information Overload)
Selancar online atau pencarian data base secara kompulsife.

Kecanduan Komputer adalah memainkan permainan komputer secara obsesif, seperti Solitaire atau Minesweeper, atau pemrogramn komputer secara obsesif. Yang paling umum dari kecanduan Internet ini adalah cybersex,  judi online,  kecan dan hubungan-cyber.

C. Penyebab Utama Kecanduan Internet
Tidak seorangpun yang tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang kecanduanInternet, namun ada beberapa faktor yang telah diusulkan untuk menjelaskan kecanduanInternet. Salah satu teori berhubungan dengan potensi mengubah mood (mood-altering potential dari perilaku-perilaku yang berkaitan dengan kecanduan proses. Sama seperti seseorang yang mengalami kecanduan belanja merasakan dorongan (rush) atau perubahan mood yang menyenangkan dari tindakan-tindakan yang berhubungan dengan belanja, demikian pula seseorang yang kecanduan internet mungkin merasakan dorongan yang sama untuk menghidupkan komputer dan mengunjungi situs-situs favorit mereka. Dengan kata lain, para peneliti berpikir bahwa terdapat perubahan-perubahan kimiawi yang terjadi dalam tubuh saat seseorang terlibat dalam perilaku kecanduan. Lebih lanjut dari sudut pandang biologis, mungkin terdapat kombinasi dari gen-gen yang membuatseseorang lebih rentan terhadap  perilaku kecanduan, mirip dengan para peneliti yang telah menemukan gen-gen yang mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap alkohol. Teori-teori lainnya berupaya menjelaskan kecanduan tersebut dengan penjelasan perilaku, psikodinamik dan  kepribadian, sosiokultural atau biomedikal (Ferris).

D. Menolong Anak dan Remaja yang Kecanduan Internet
Jika Anda membatasi penggunaan Internet secara keras bagi anak-anak Anda, maka mereka mungkin akanmemberontak atau pergi ke tempat lain. Tapi Anda perlu memantau penggunaankomputer dan smartphone, mengawasi aktivitas online dan memberikan pertolongan jikaanak-anak Anda memerlukan. Jika anak-anak Anda menunjukkan tanda-tanda kecanduan Internet, ada beberapahal yang bisa Anda lakukan untuk menolong:
a.               Doronglah minat-minat lainnya dan aktivitas sosial
b.              Pantaulah penggunaan komputer dan tetapkan batasan yang jelas
c.               Gunakan apps untuk membatasi penggunaan smartphone oleh anak-anak Anda
d.             Bicarakanlah dengan anak-anak Anda tentang masalah-masalah yang bisa munculakibat kecanduan Internet
e.       Carilah pertolongan: mungkin dari pelatih olahraga, dokter, sahabatkeluarga/tetangga, konselor atau psikolog.

Daftar Pustaka

Ningtyas, Sari. 2010. Hubungan Self Control dan Internet Addiction pada Mahasiswa. Universitas Negeri Jakarta. Vol. 2 No. 2 Hal 3-5

Putra, Kevin. 2009. Big Five Personality dengan Kecanduan Internet. Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia : Jurnal Psikologi Vol. 24 No. 3 Hal 30-45

Christianto, Victor. 2014. Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif Perilaku: Sebuah Tinjauan Ringkas (Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy). Sekolah Tinggi Teologi Satya Bhakti Malang. Vol. 27 No. 6 Hal. 8-9

Hasibuan, Adlin. 2014. Sistem Pakar Diagnosa Kecanduan Menggunakan Internet (Internet Addiction) Menggunakan Metode Certainty Factor. Pelita Informatika Budi Dharma. Volume 6 nomor 3. Hal 143-147

KOC, Mustafa. 2011. Internet Addiction and Psychopatology. TOJET. Volume 10 issue 1. Page 143-148

Widiana, H.S., Retnowati, S., Hidyat, R., Kontrol Diri dan Kecenderungan Kecanduan Internet. Indonesian Psychologycal Journal Vol.1 No. 1. Hal 6-16

Soetjipto, H.P. Pengujian Validitas Konstruk Kriteria Kecanduan Internet. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada : Jurnal Psikologi Volume 32, No. 2, Hal 74-91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar